Tidak boleh ada matahari kembar, demkian peribahasa yang selalu keluar tiap kali calon Kepala Daerah maupun calon Presiden berhasil menjadi pemenang. Akhirnya, Wakil Bupati maupun Wapres hanya menjadi ban serep, digunakan hanya saat butuh. Meski sudah bersepakat saat mencalonkan diri untuk selalu bersama, tetap saja diingkari sebab Bupati maupun Presiden terpilih tidak ingin kelak Wakilnya akan menjadi pesaing terberatnya di pesta demokrasi berikutnya.
Di Jember, pemandangan semacam ini adalah sesuatu yang lumrah dari masa ke masa, Wakil Bupati hanya eksis fotonya di dinding dinding kantor dinas. Perannya seolah diamputasi, menentukan kebijakan strategis tidak akan pernah dilibatkan, paling hanya menjadi pembuka atau penutup acara seminar. Saat Hendy Siswanto terpilih jadi bupati, Gus Firjaun terbilang beruntung sebab ketokohannya yang seorang kiai ternama sehingga masih sering mendapat undangan pengajian.
Meski demikian, wartawan Kominfo tidak diperbolehkan mengikuti kegiatan Gus Furjaun sehingga kegiatannya sepi dari sorotan kamera. Sebelum Gus Firjaun, Kiai Muqiet juga bernasib sama, hanya saja kiai kondang di ujung timur Jember ini masih lebih beruntung sebab kegiatannya terpublikasi dengan baik. Keduanya sama-sama tokoh agama terkemuka, tidak menjadi pejabat publik pun, masyarakat sering mengundangnya untuk jadi pembicara. Lantas, apa kabar dengan Djoko Susanto ?
Baru-baru ini, portal media online kliktimes mengangkat berita dengan judul 'Peran wabup Jember dimatikan, tim sukses justru tampak aktif mendikte birokrasi'. Dalam narasi yang disampaikan, Djoko Susanto datang ke Aula Dispendik, di sana rupanya sudah ada Dimma Akhyar, timses pemenangan yang sedang mendengarkan pemaparan program dari berbagai OPD. Sebelumnya, Kliktimes juga menurunkan berita soal pengangkatan PLT di sejumlah posisi, namun Djoko tidak dilibatkan dalam pengambilan kebijakan tersebut.
Tidak hanya itu, ketika arak arakan Gus Fawait sebagai bupati ke Pendopo, Djoko tidak kelihatan batang hidungnya. Demikian pula saat apel perdana, kliktimes mengabadikannya lewat berita, Djoko Susanto seolah menghilang dari peredaran. Bapak-bapak di warung kopi menjadikannya candaan, kata mereka, Djoko Susanto sedang Topo Broto. Sementara Fawait kepada media berkilah, bila Bupati dan Wakil Bupati bukanlah pasangan pengantin baru yang ke mana-mana harus bergandengan.
Publik mungkin masih ingat dengan Lucky Hakim, artis senetron yang terpilih menjadi Wakil Bupati Indramayu pada Pilbup 2019. Ia dengan jantan memilih mundur sebagai Wakil Bupati sebab sejak dilantik, Nina Agustina langsung mengistirahatkannya, sama dengan Djoko Susanto, peran Lucky Hakim dimatikan seketika. Namun, di Pilbup 2024 kemaren, Lucky Hakim membayar lunas rasa sakit hatinya, Ia menang telak dengan perolehan suara 67,61 persen atas Nina Agustina yang berada di posisi kedua.
Lantas, bagaimana dengan Djoko Susanto, beranikah dia mengikuti jejak Lucky Hakim bila terus dijadikan ban serep? Mari kita terus ikuti dinamikanya.
Penulis: Robith Fahmi