Sejak reformasi 98, demokrasi terus menemukan jalannya. Namun, nafas Orde Baru belum sepenuhnya berhenti, Ia terus berusaha hidup lewat banyak organ, seperti benalu. Karena organ-organ itu memberikan banyak makan, benalu tumbuh begitu cepat. Bahkan, membunuh organ-organnya, demokrasi pun dibajak, benalu mengusai sepenuhnya, mengendalikannya dan menjadikannya alat untuk membunuh kekuatan sipil yang selama ini menjadi kekuatan utama demokrasi.
Benalu Orde Baru kembali dengan kemasan baru, setelah sebelumnya Ia mempelajari demokrasi secara sempurna, lalu saat ini, menjadikannya bungkus belaka, isinya Orde Baru. Orba menggunakan militer sebagai perisai utama untuk mempertahankan kekuasaannya. Kali ini, tidak hanya militer, Ia membuka jalannya dengan UU ITE, aturan ini dijadikan alat untuk membungkam kritik. Tidak puas dengan UU ITE, mereka akan merilis UU Polri dan UU Kejaksaan.
Dua instrumen UU tersebut akan semakin sempurna dengan UU TNI, kritik akan dianggap sebagai ancaman negara, aktivis demonstrasi siap-siap masuk jeruji besi, media massa terlalu kritis siap-siap hilang website dan akun medsosnya. Pada prinsipnya, rezim memegang penuh kekuasaan, tanpa kritik, tanpa oposisi, tanpa kontrol--sempurna.
Saat ini, harapan itu ada di pundak mahasiswa, seberapa jauh mereka akan melangkah, seberapa hebat mereka akan melawan, seberapa rapi mereka berkonsolidasi menentang Orde Baru versi terbaru. Bila mereka mundur selangkah, maka nasib jutaan rakyat akan kian tertindas, penggusuran akan semakin mudah menggunakan kekuatan militer, membentuk opini publik akan kian gampang dengan memberangus pengkritik media massa dan akun medsos--Indonesia Gelap.
Sebelum kegelapan itu menutupi celah-celah cayaha, maka mahasiswa harus bergerak dengan kekuatan massa, turun ke jalan untuk menggetarkan singgasana-singgasana sisa orde baru.
Bangkitlah Mahasiswa, Reformasi jilid II harus segera dijalankan!